drama queen/king

Pernah merasa kehilangan kepercayaan terhadap orang lain? Saya pernah. Melulu, bahkan. Tidak adil memang buat orang-orang tertentu yang ternyata mampu menjaga kepercayaan yang telah saya berikan. Namun, seperti halnya ketika hujan turun mengguyur, yang terkena basah tentunya tidak hanya 1 rumah (analogi yang sedikit memaksa).

Awalnya? Saya pernah merasa sangat kecewa terhadap seorang sahabat. (Well, setidaknya saat itu kami merasa bahwa kami bersahabat.) Masalah klasik memang: Cinta monyet ABG yang berakhir dengan perpecahan genk (bukan rebutan cowo’ juga sih, yaaahhh… seperti itulah temanya kurang-lebih). Lucunya, dari hal sepele bin simple sederhana itu (karena sudut pandang saya sekarang adalah seorang wanita belia berusia 25 tahun, bukan gadis sma berusia 17 tahun), mind set saya terhadap beberapa tipikal manusia mengalami perubahan: dari tidak respek hingga lebih aman menjaga jarak.

Yes, bisa sedahsyat itu, hingga detik ini, dari kejadian yang sudah berlangsung selama sekitar 7 tahun lalu.

Sebenarnya bukan tema “rebutan cowo” yang menjadi pupuk hilangnya kepercayaan saya terhadap sang mantan sahabat. Ada hal lain yang membuat saya sangat kecewa terhadapnya. Mungkinkah seorang sahabat dengan mudahnya membolakbalikkan cerita tentang sahabatnya kepada orang lainnya, dan berbeda cerita lagi kepada orang lainnya lagi? Belum lagi mengupayakan aneka ragam cara mencari sekutu dengan mengumpulkan rekayasa fakta membuka aib orang lain. Dan, taraaam . . . banyak orang yang tidak mengetahui duduk perkara sebab-musabab permasalahan yang terjadi terbuai oleh curhat2 manja sehingga memberikan simpati, kemudian memberikan penilaian buruk terhadap “sang korban”.

Layakkah seseorang yang dianggap sebagai sahabat melakukan pembunuhan karakter tersebut?!

Sekarang saya berdiri pada posisi saya, kondisi saat ini, setelah melewati beberapa kurun waktu pengalaman yang tidak hanya saya alami sendiri, tapi saya lihat juga dari orang lain. Ternyata, usut punya usut, beberapa orang ditakdirkan untuk menjadi “aktor drama” yang sangat baik. Mereka biasa disebut dengan istilah “Drama Queen” atau “Drama King”.

Sosok drama queen atau drama king tidak musti menceritakan kisah bualan atau omong kosong. Mereka bisa jadi menceritakan suatu kisah, berdasarkan fakta-fakta tertentu, tetapi dibumbui dengan aneka penyedap rasa yang menjadikan apa yang diceritakannya begitu menggiurkan, lantas target yang diceritakan tersirap dan tidak bisa melihat kenyataan sederhananya seperti apa. Sosok-sosok antagonis seperti itu ternyata ada di mana-mana dan memainkan peran sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing. Politik kantor, politik bisnis, politik cinta, hingga politik keluarga (kalo di sinetron-sinetron biasanya diceritakan dalam kisah tragedi harta warisan).

Nah, berdasarkan pengalaman-pengalaman nyata seperti itu, saya mengalami trauma yang lumayan berat jika berhadapan dengan orang-orang dengan tipikal tertentu. Padahal, tidak melulu orang dengan tipikal tertentu tersebut adalah “penjahat” seperti yang saya maksudkan. Namun, terlepas dari semuanya, saya memang tidak layak untuk menilai dan “menghakimi” orang lain. Mungkin saja selama ini saya mengalami salah paham berkepanjangan. Mungkin juga “para penjahat itu” tidak sejahat penampakan mereka. Mungkin juga nih, mungkin juga . . . saya adalah salah satu di antara mereka! OH NO . . . waspadalah, waspadalah . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s