*fitnah…

Muram durjana menjadi kondisi yang senang maju mundur di kehidupan saya dalam beberapa hari terakhir ini. Beberapa hal cukup membuat dunia saya seperti teraduk-aduk, pontang-panting pikiran dan hati saya dibuatnya.

Dulu sekali, saat pertama kali memasuki dunia kerja, saya tidak menyangka akan berhadapan dengan kondisi di mana orang-orang yang berkecimpung di dalamnya harus membuat strategi untuk “berpolitik”. Walaupun kondisi di mana saya berada di dalamnya tidak seseram terdapat penggulingan kekuasaan, jabatan, atau apa pun yang harus menggunakan dukun pelet dan seribu jampi maut bertuah tumbal untuk menghadang saingan. Cukup. Kondisi awal tersebut sudah cukup membuat saya melongok bagaimana dunia nyata sebenarnya.

Saya belajar sambil berjalan. Saya belajar untuk bertahan.

Terus bertahan sambil menelusuri medan perang, membaca situasi dan kondisi, pada akhirnya jadi tidak memercayai siapa pun memaksa saya untuk belajar bahwa dunia orang dewasa memang penuh dengan intrik tengik. Menjadi orang yang bersikap apatis terhadap berbagai pembicaraan terkait beberapa orang dan kondisi yang dilontarkan oleh orang-orang tertentu, entah dengan kepentingan masing-masing, merupakan cara saya untuk mempertahankan diri tanpa mudah terpancing situasi.

Saya memang berhasil bertahan. Namun, keidealisan saya untuk tidak memercayai siapa pun tidak lantas menjadikan saya lebih senang menyendiri, bergelut dengan diri sendiri, atau mudah menuding bahwa setiap orang tidak layak untuk dipercaya dan dihargai.

Waspada, mungkin lebih tepatnya. Ya, saya waspada terhadap siapa pun. Apakah salah?

Kondisi manis berkedok kebusukan tersebut kembali saya alami. Kali ini dalam wadah yang membuat saya sangat sangat tidak habis pikir dibuatnya: Spiritual, kebanyakan menyebutnya sarana ruhaniah.

Cercaan sempat terlontar dari dan kepada diri saya sendiri untuk pada akhirnya perlahan-lahan mundur keluar dari wadah tersebut. Namun, hal tersebut sangat tidak patut. Saya sangat mencintai dia yang dengan berbagai cara telah mengetuk hati saya sejak lama, dia yang selalu ada untuk saya di setiap saat saya melupakannya, bahkan di kala saya belum mengetahui keberadaannya, perannya, cintanya yang luar biasa untuk saya dan orang-orang lainnya di dunia.

Memang sangat tidak masuk akal ketika mengetahui bahwa begitu banyak orang yang mengaku sangat mencintai Tuhannya, Junjungannya, dan Para KekasihNya masih disibukkan dengan pikiran-pikiran mengenai dunia dan intrik-intrik liciknya. Mungkin memang pada awalnya setiap orang tersebut memiliki kepentingan yang sama seperti saya, mencari sarana memperbaiki diri dan hati. Sayangnya, dunia yang memang bengis berwajah manis ini telah menggeser kepentingan-kepentingan mereka tersebut. Hmmm . . ., entahlah, mungkin saya segera menyusul mereka, karena saya berada di dalamnya bersama mereka. Semoga tidak . . .

Saya benar-benar tidak habis pikir ketika mengetahui bahwa dalam satu sarana spiritualitas di mana setiap makhluk di dalamnya, yang seharusnya hanya berfokus dan hanya menujukan hati dan pikiran mereka ke hadiratNya, Junjungannya yang Mulia, dan Para KekasihNya yang penuh cinta, juga menerapkan berbagai sistem politik, adu domba, fitnah???!!! Tampaknya memetika menjadi cara penjelasan terbaik mengapa pada akhirnya sekelompok orang berpikir buruk tentang orang lainnya.

Entahlah, sepertinya setiap orang dalam wadah ini memiliki kecurigaan tanpa batas, terus bergulir terhadap orang lainnya. Entah kapan akan berhenti. Mungkin hingga mereka termakan kecurigaan mereka sendiri, atau saat kecurigaan tersebut menjadi kanker yang membusuk dalam hati mereka. Penyakit gila nomor 1: NEGATIF THINKING.

Saya muak. Muak berada dalam kondisi di mana saya ingin memperbaiki diri, tetapi orang-orang yang saya anggap mumpuni justru terus menyuapi saya dengan kecurigaan. Yang lebih lucu, saat ini giliran saya yang mereka curigai. Hallo??? Memangnya dengan siapa saya melakukan konspirasi?

Saya muak. Orang-orang yang curiga terhadap saya mengatasnamakan feeling mereka, atau lebih tepatnya mereka merasa telah berada dalam tingkatan spiritualitas tertentu yang sangat tinggi di mana mereka bisa mengetahui isi hati saya. Bukankah orang-orang yang diberikan karomah luar biasa untuk mengetahui isi hati orang lain justru adalah orang-orang yang tawadu’??? Bahkan orang-orang pilihan Yang Maha Kuasa, yang nyata-nyata jauh lebih luar biasa dari mereka yang nyata-nyata biasa saja, tidak pernah mencontohkan kesombongan demikian.

Kenapa sepertinya orang-orang harus terus “mencari muka”? Saya pikir “cari muka” itu hanya ada di kehidupan dunia. Tentunya bukanlah hal yang haram “cari muka” dalam hal ruhaniah karena tidak ada pelibatan dan pengikutsertaan orang lain dalam hal yang sangat individual ini, struktur vertikal makhluk dan Sang Pencipta. Namun yang mereka lakukan???

Ternyata fitnah di akhir zaman ini sedemikian kerasnya, menjadi lingkaran setan yang begitu dahsyat dan kuat untuk terus mencoba siapa pun. Pilihan yang tersedia adalah menjadi perantara fitnah atau korban fitnah, subjek atau objek!

Saya lebih memilih jadi orang yang melulu apatis saat ini. Persetan dengan segala tudingan yang akan ditargetkan kepada saya. Saya hanya mencoba WASPADA dan saya tau, saya tidak pernah menyalahgunakan fitnah yang dilontarkan orang lain atas diri orang lainnya yang dipercayakan singgah di telinga dan pikiran saya. Untuk apa mengurusi fitnah? Untuk apa mengurusi kalian yang doyan mengurusi fitnah?

Allah Yang Maha Mengetahui. Allah Yang Maha Melindungi. Allah Yang Maha Sempurna. Semoga kami, manusia akhir zaman ini, bisa mengembalikan cinta kami kepadaMu melalui Baginda Rasulullah Yang Mulia, melalui Para KekasihMu yang Penuh Cinta, dengan cara yang beradab dan tepat, tidak membuat Kalian kecewa, tidak membuat Kalian melulu sedih. Semoga kami dapat menjadi manusia yang benar-benar menggunakan akal yang Kau anugerahkan kepada kami dan bisa melewati berbagai cobaan dengan sangat baik. Semoga kami bisa saling mencintai serta menghilangkan segala benci, dendam, dan syak wasangka yang selama ini membalut pikiran kami, untuk kemudian saling menguatkan di jalan cinta menujuMu, Baginda Rasulullah Yang Mulia, dan Para KekasihMu yang Penuh Cinta. Engkaulah sebaik-baik pelindung, pembimbing, dan tempat kembali…

*fitnah: 1) perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang; 2) penyebaran atas aib orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s