tentang bumi…

Berapa tepatnya usia bumi? Saya yakin tidak ada orang yang benar-benar mengetahuinya. Para ilmuwan menggembar-gemborkan bahwa usia bumi adalah sekitar 4,6 miliar tahun, merunut pada hasil penelitian yang dilakukan secara turun-temurun. Entah apa landasan penelitiannya hingga mereka bisa mengambil kesimpulan demikian. Padahal usia setiap peniliti juga tidak ada seujung kuku usia bumi tersebut. (Begitulah kawan, sedikit banyak pengetahuan merupakan warisan! Namun tentunya warisan berupa pengetahuan jauh lebih baik dibandingkan warisan berupa kekufuran, apalagi kekafiran, terlebih warisan yang bisa dijadikan manfaat, bukan mudharat.)

Ngalor-ngidul sejenak, bukan hal itu yang sebenarnya ingin saya tekankan. Ada hal yang lebih dari sekadar usia bumi. Hal yang harus kita sadari, maklumi, hayati, dan cermati: Kondisi bumi.

Pernahkah terpikirkan betapa tuanya bumi di mana kita ditempatkan oleh Sang Pencipta ini? Saya sendiri tidak dapat membayangkan sudah berapa jumlah manusia yang lahir-hidup-mati sejak Kakek Moyang Adam ditakdirkan untuk berada di bumi ini, bahkan tidak lepas dari keberadaan manusia-manusia berhati mulia yang diciptakan untuk mengemban tugas suci oleh Sang Pembuat Keputusan. Sekali waktu terlintas dalam benak saya betapa bahagianya menjadi bumi karena dapat menjadi saksi begitu banyak kebesaran Sang Maha Besar di muka bumi ini, pun diberi kesempatan untuk melayani para manusia berhati mulia tersebut di setiap zamannya. Tidak ada satu pun yang mungkin terlewat disaksikannya kan? Pasti indah sekali, Subhanallah…

Sayangnya, tugas suci yang diemban bumi tidak seindah apa yang didapatkannya dari sebagian besar manusia yang hidup di permukaannya. Tidak sekali-dua kali-tiga kali bumi harus mengelus diri berlapang dada menghadapi perlakuan kita yang sudah sering memperlakukannya dengan sangat tidak berperasaan: meludah sembarangan; buang kotoran sembarangan; mendirikan berbagai bangunan tanpa pertimbangan matang selain orientasi kecanggihan zaman, modernisasi, dan intelektualitas bejat yang nyata-nyata merusak lahan; serta setumpuk perlakuan busuk lainnya yang membuat struktur keseimbangan hubungan bumi dan alam jadi kacau. Sadarkah kita?

Tidak tau asal-muasal bagaimana kita bisa memperlakukan bumi dengan sedemikian buruknya. Entah karena hal tersebut, lagi-lagi, merupakan warisan dari manusia pertama yang melahirkan teknologi tapi tidak pernah memikirkan dampak buruknya, entah karena kita terlalu apatis dengan satu-satunya tempat kita tinggal ini, atau entah karena kita memang terlalu bodoh.

Tentu tidak guna mencari siapa yang dapat dijadikan kambing hitam ketika banyak manusia pada akhirnya harus menelan pil pahit atas sikap mereka terhadap bumi saat bencana alam terjadi di mana-mana. Banyak dari kita lebih senang berpendapat bahwa setiap bencana alam yang terjadi merupakan musibah, takdir Sang Pembuat Ketetapan, atau lebih lucu: hukuman dari Sang Maha Pengasih, alih-alih instrospeksi lantas bebenah diri agar kejadian serupa tidak terulang kepada anak-cucu manusia di zaman mendatang. Pernahkah kita melakukannya? Atau adakah dari kita yang melakukannya?

Bumi sudah terlalu tua, tapi bumi tidak serenta yang kita duga. Setiap pergolakan yang terjadi padanya, sedikit-banyak, merupakan akibat tingkah polah kita yang hobi melakukan kerusakan di mana-mana. Pun, setiap bencana alam tidak lain merupakan cara bumi untuk tetap menjaga keseimbangan tubuhnya, geliat atas kelelahannya. Sepertinya tidak ada satu pun dari kita yang peduli dengan kondisi bumi yang seperti itu: Tua dan lelah, karena kita hanya melulu ingin dimengerti tanpa mau memberi kesempatan diri untuk memahami, terlalu egois!

Lantas, adilkah bagi Tuhan bila kita sekonyong-konyong rajin beribadah setelah merasakan musibah, di mana kita beranggapan bahwa Tuhan telah membuat hukuman? Menyedihkannya, hal tersebut lebih menunjukkan betapa kita lebih takut pada musibah dibandingkan kepada Dia yang dariNya kita berasal dan akan berpulang. Melulu bayangan akan kekuatanNya untuk memberikan hukuman kapan pun Dia berkehendak lebih menghantui kita daripada bayangan akan kekuatanNya yang begitu besar, yang begitu hebat, yang begitu dahsyat ketika pertama kali menciptakan semesta jagat raya serta memberi mandat kepada bumi untuk melaksanakan titahNya dan menjadi wadah perantara akan keagungan dan keperkasaanNya. (Subhanallah…, tidak mampu otak saya membayangkan kehebatan yang jauh lebih hebat dari yang saya pikirkan akan diriNya, karena Dia jauh melampaui otak kecil saya.)

Betapa angkuhnya kita ini. Berapa besar cinta luar biasa dari bumi, yang runut-dirunut dari Dia Sang Maha Penyayang, yang telah kita tolak mentah-mentah begitu saja? Kita selalu beranggapan bahwa hidup dan kehidupan kita berasal dari tetes keringat, upah atas kerja keras kita sendiri, tanpa mau memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menyadari bahwa seluruh yang diberikan kepada kita berasal dari Sang Maha Baik. Parahnya, dengan anggapan sombong tersebut kita saling merasa lebih, bebas memperlakukan apa pun yang ada di sekitar kita dengan seenak hati. Orientasi jangka pendek: proyek, perluasan proyek, pengembangan proyek, uang… terlalu memberatkan mata, telinga, pikiran, dan hati kita untuk melihat jauh ke depan…

Entah apa yang akan terjadi besok bila kita masih menjadi budak akan keangkuhan, keserakahan, dan keegoisan kita. Entah apa yang akan dialami oleh anak-cucu manusia zaman mendatang.

Saya tidak tau mana yang lebih baik, menjadi manusia bebas yang terpenjara akan ketakutan untuk mengalami musibah atau terus menjadi budak keangkuhan, keserakahan, dan keegoisan hingga akhirnya terkena tamparan untuk sadar saat mengalami sendiri musibah itu. Tentunya, semoga kita tidak menjadi bagian dua golongan tersebut. Semoga kita lebih memilih untuk menjadi manusia yang tau berterima kasih dengan berupaya mengembalikan cinta luar biasa yang diberikan oleh Sang Maha Mencintai dengan cara memperlakukan bumi dan makhluk yang menempatinya secara jauh lebih baik.

Haruskah menundanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s