Guru Spiritual dan Muridnya (The Garden of Truth: Mereguk Sari Tasawuf, Seyyed Hossein Nasr)

Bismillaah, Maddad Ya Sayyidi, Rasulullah, Allah…

Ketertarikan saya terhadap dunia tasawuf tak terbendung sudah. Sejak lama…, tapi saya baru benar-benar menyadari dan mendapatkan jalan untuk mengetahuinya selama 1 tahun terakhir ini. Alhamdulillah…

Masih banyak yang belum saya ketahui dan setiap kesempatan yang ada tak luput sedetik pun dari kehendak dan izin Nya, Masha Allah… Semoga saya selalu diberikan kesempatan untuk bisa menjadi makhluk yang lebih baik…, aaammmiiin…

Melalui berbagai cara, Ia tunjukkan jalan untuk saya bisa belajar, memperoleh pengetahuan, secara perlahan dan sesuai dengan porsi diri saya. Memang hanya Ia Yang Maha Mengetahui dan Memberi Petunjuk. Beberapa waktu lalu seorang teman mengemukakan tentang sebuah buku yang sedang dibacanya. Sungguh menarik, dan tentunya saya pun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk meminjam buku tersebut (hehehehe, engga modal banget?! thanks anyway, mas Ade Rachman).

-Sang Guru-
. . . Seorang syaikh atau guru spiritual dapat ditunjuk oleh gurunya sendiri, atau tugas itu dapat diturunkan dari langit pada orang tersebut. Dalam kedua kasus, dibutuhkan penobatan Ilahi. Sepanjang sejarah ada banyak orang yang pura-pura menjadi guru dan tak pernah sebanyak sekarang, terutama di Barat. Selama abad yang lalu telah banyak muncul apa yang disebut lingkaran Sufi, baik di Amerika dan Eropa, yang tak ada kaitannya dengan Tasawuf dari Islam dan mengklaim sebagai guru yang kaitannya dengan rantai tradisional penyampaian kekuatan esoterik dan otoritas (silsilah) entah sama sekali tak ada, mencurigakan, atau tersembunyi secara misterius. Sebuah contoh kasus adalah Gurdjieff, yang pada awal abad kedua puluh mengklaim di Prancis sebagai menyebarluaskan ajaran Sufi tanpa pernah menunjukkan kaitannya dengan rantai Sufi yang autentik. Atau kita dapat menyebutkan Idris Shah, yang berusaha mengajarkan Tasawuf dengan terlepas Islam di Amerika dan Eropa. Keautentikan seorang guru dinilai dari kualitas muridnya sebagaimana kata pepatah, pohon dinilai dari buahnya. Tetapi ada juga beberapa kriteria eksternal untuk menentukan siapakah guru yang sebenarnya, seperti ortodoksi dalam pengertiannya yang terdalam dan bukan hanya pada tataran formal, penguasaannya untuk mengobati penyakit jiwa tertentu, otoritas spiritual, dan unsur kesucian. Sang guru bisa jadi tua ataupun muda, laki-laki ataupun perempuan, Arab, Persia, Turki, ataupun dari etnis lain tetapi dalam semua kasus dia harus menampakkan sesuatu dari rahmat Muhammad (saw), atau barakah, dan menunjukkan pengetahuan tentang jalan yang dia tunjuki . . .

Tasawuf terkadang disebut Mazhab Rahasia (asraar), suatu istilah yang merujuk kepada Misteri Ilahi. Fungsi sang guru adalah untuk menerima Misteri tersebut, merealisasi Pengetahuan Ilahi, mendapatkan anggur, dan menuangkannya ke dalam setiap cawan, yaitu masing-masing murid sesuai dengan kapasitasnya. Sang guru mewakili otoritas Nabi di dalam walaayah/wilaayah dan mencerminkan di dalam dirinya sendiri Nama-Nama Allah yang Maha Pengampun serta Maha Mulia. Tetapi di atas semua itu, sang guru merupakan cerminan Nama Tuhan pada tataran manusia, Pemberi Petunjuk (al-Haadii), yang dengan itu ia mampu menuangkan anggur ke dalam cawan diri murid-muridnya.

Tidak semua orang, sekalipun sejak awal memenuhi syarat, cocok untuk menjadi murid bagi setiap guru yang ia temukan, meskipun murid itu memenuhi syarat, dan tidak pula setiap guru sesuai untuk setiap murid, meskipun ia autentik secara spiritual. Ada berbagai jenis manusia dan berbagai dimensi kenyataan spiritual yang tercakup dalam Tasawuf. Dengan cara yang sama, Allah melalui rahmat-Nya memperlihatkan agama-agama yang berbeda agar sesuai dengan kebutuhan kelompok manusia yang berbeda dan dalam Islam hal itu dimungkinkan dengan berkembangnya berbagai bentuk tarekat Sufi, di dalam masing-masingnya Dia telah hadirkan syaikh-syaikh dengan berbagai karakteristik . . .

Saat ini jumlah guru-guru besar Sufi tidak sebanyak di masa lalu. Namun demikian, kita bisa menemukan guru-guru autentik baik di Timur maupun Barat bahkan di tengah begitu banyak Tasawuf palsu. Fenomena semacam ini–mengklaim Sufi asli tetapi yang biasanya tak berhubungan dengan Islam–tumbuh subur, sayangnya, dengan begitu mudah di Barat hari ini, sedangkan guru-guru Sufi yang asli serta ajaran-ajarannya yang berakar sangat kuat dalam tradisi Islam dan selalu dimulai dengan fondasi Hukum Tuhan atau Syari’ah menemukan kesulitan yang lebih besar untuk berfungsi dengan baik. Peran murid adalah mencari guru yang autentik, yang kepadanya ia dapat tunduk sepenuhnya. Orang yang memerlukan bimbingan harus selalu ingat ucapan inisiatik Kristus, “Banyak yang terpanggil, tetapi sedikit yang terpilih”.

-Sang Murid-
Banyak yang bertanya, jika ada wahyu dan Hukum Tuhan, lalu mengapa orang memerlukan guru? Perlu dijelaskan pertama-tama bahwa guru Sufi tidak sama dengan seorang imam, yang bertindak sebagai perantara antara kaum awam dan Allah dalam gereja Kekristenan. Dalam Islam, fungsi kependetaan dibagi merata di antara orang-orang beriman, dan seluruh kaum Muslim dapat menghadap Tuhan secara langsung dalam shalat wajib, yang dalam berbagai cara serupa dengan Ekaristi Kristen. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa (dalam tradisi yang sarat liturgi) yang terakhir ini memerlukan kehadiran seorang imam atau pendeta yang diurapi, sementara dalam shalat wajib setiap Muslim, laki-laki ataupun perempuan, melakukan fungsi pendeta sendiri. Peran guru Sufi adalah sesuatu yang lain. Perannya mencakup bimbingan dalam pendakian gunung kosmik dan bahkan terbang melampauinya, melampaui keadaan manusia biasa. Amalan agama, yang ditujukan bagi setiap orang, adalah seperti berjalan di atas tanah atau “jalan lurus horisontal” ini. Akan tetapi, jalan Sufi adalah seperti mendaki gunung atau “jalan lurus vertikal”. Setiap orang yang mampu berjalan dapat melakukannya pada “jalan horisontal” dengan sendirinya, dan tentu saja dengan penegasan Ilahi, karena bahkan di tataran horisontal pun orang dapat tersesat. Namun pendakian gunung adalah sesuatu yang berbeda. Terutama di gunung tinggi orang tidak dapat melakukannya tanpa pemandu yang berpengalaman serta, tentu saja, pertolongan Tuhan. Nah, gunung kosmik jauh lebih tinggi daripada puncak Himalaya, dan orang membutuhkan panduan untuk mencapai puncaknya dan untuk mendaki lebih jauh ke Realitas Tak Terbatas di luar kosmos. Ya, sebagian telah berhasil naik tanpa bantuan manusia, melalui agen-agen yang oleh Tasawuf disebut panduan gaib atau tak terlihat (rijaal al-ghayb), seperti Khidhir, atau Imam Gaib. Tapi mereka adalah pengecualian, bukan norma. Dalam Tasawuf, tugas-tugas yang dipikulkan di bahu para murid mengharuskan mereka untuk aktif dan tidak hanya dalam keadaan pasif menunggu karunia turun dari Langit, meskipun ia tentu memiliki kesempurnaan aktif maupun pasif. Itulah mengapa mereka disebut muriid, artinya orang yang melatih kehendaknya, atau saliik, yang berarti orang yang menempuh perjalanan. Seperti seorang pendaki yang ingin mencapai puncak, sang murid memerlukan pemandu, yang tak lain adalah guru spiritual.

Istilah murid (disciple) itu sendiri menyiratkan disiplin. Calon murid (juga disebut faqiir atau darwiish) harus memiliki beberapa kualitas dasar untuk menjadi calon yang pantas bagi jalan Sufi. Orang itu pertama-tama harus tidak puas dengan keadaannya saat ini dan menyadari kebutuhan akan kesempurnaan. Orang tidak bisa menuangkan apa pun ke dalam cangkir yang sudah penuh. Calon murid itu karenanya harus memiliki kerinduan (thalab) pada Allah dan pada kesempurnaan dirinya sendiri. Orang tersebut juga harus memiliki kecerdasan yang cukup untuk menyadari bahwa dunia ini adalah sementara dan pada dasarnya tidak nyata, sedangkan Allah itu Permanen dan Nyata, dan bahwa kita harus melekatkan diri kita pada apa yang Nyata. Ia juga harus memiliki semangat (himmah) dan kehendak yang kuat (iraadah) untuk benar-benar menapaki jalan itu. Di atas segalanya, calon murid harus memiliki iman, cinta kepada Allah, dan memiliki hasrat untuk mengenal dan berjumpa dengan-Nya sedemikian besar sehingga ia bersedia berkorban dan menjalani disiplin yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas ini di sini dan sekarang daripada menunggu kehidupan di alam baka.

Sebagian berpendapat bahwa Tasawuf akan mengoreksi ketidakseimbangan psikologis. Tentu saja, Tasawuf memiliki ilmu yang menyembuhkan jiwa, . . . Akan tetapi, pengobatan spiritual ini adalah satu hal dan perawatan klinis penyakit psikologis adalah hal lainnya. Biasanya calon murid harus sehat dan seimbang secara psikologis, yang tidak berarti sempurna secara spitirual. Jika sebuah jiwa sudah sempurna, untuk apa lagi jalan tersebut? Thariqaah merupakan sekolah tempat jiwa memperoleh kesempurnaan, tetapi sekolah ini tidak bagi semua orang. Persyaratan awalnya mencakup jiwa yang cukup sehat untuk dapat menanggung beban latihan spiritual dan disiplin jalan tersebut.

***

Alhamdulillah . . . Allah mengizinkan saya untuk mengetahui bahwa di zaman ini ada seorang Guru Besar Sufi yang seluruh kriterianya tercakup di dalam apa yang dijabarkan oleh sang penulis melalui bukunya. Walaupun saya belum, atau mungkin tidak akan pernah diberikan kesempatan indah untuk menjadi muridnya, saya benar-benar sangat bersyukur menjadi pecintanya. Semoga menjadi pecinta sejati yang bisa menunjukkan cinta kepadanya, Baginda Rasulullah, dan Allah, dengan cara yang tepat sasaran sehingga tidak membuat mereka terus-menerus kecewa akan tindak-tanduk ketidaksempurnaan saya. Semoga Allah senantiasa memudahkan dan meringankan segala tugas Sang Guru Besar Sufi dalam membimbing saya dan sekian banyak pecinta lainnya, untuk bisa makin dekat, makin mengenal, dan makin mencintainya, Rasulullah, dan Allah. Aaamiiin, untukmu Ya Sultanul Awliya . . .

Shalawat dan salam selalu tercaurahkan untukMu Ya Baginda Rasulullah. Juga untuk keluarga suciMu dan para sahabatMu yang penuh cinta . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s