catatan di pagi 22 Rajab 1431 H

briefing pagi ini:

“Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Maddad Ya Sayyidi, Rasulullah, Allah…
kumohon selalu petunjuk dan bimbingan kalian dalam menjalankan aktivitasku dan orang-orang yang kusayang hari ini,
semoga kalian berkenan untuk menjadikan kami sebagai manusia yang lebih baik, lebih ikhlas, lebih sabar, lebih cerdas, baik dalam beribadah, bekerja, maupun dalam menjalin hubungan kami dengan sesama kami,
semoga kalian selalu membukakan pintu hati dan pikiran kami serta menerangi setiap langkah kami, menunjukkan kami jalan yang penuh dengan ridho kalian, dan melimpahkan kami keberkahan,
semoga kalian selalu memudahkan dan melancarkan segala urusan kami, memudahkan dan menambahkan rezeki kami untuk dapat kami gunakan di jalan menuju kalian,
semoga kalian selalu melunakkan hati kami sehingga kami bisa lebih mencintai sesama kami,
semoga kalian makin mencintai kami dan membuat kami makin mencintai kalian,
semoga kalian tidak pernah melepaskan kami dari genggaman hati kalian, melindungi di mana pun kami berada dan dari hal apa pun termasuk fitnah, serta menyelamatkan kami di dunia maupun akhirat kelak,
kalianlah tempat kami bergantung, tempat yang selalu dapat kami percaya, selalu menerima kami, dan memahami kami bahkan ketika kami tidak memahami diri kami sendiri.
Maddad Ya Sayyidi, Rasulullah, Allah…”

*tiada Tuhan selain Allah, hanya Allah tempat seluruh makhluk memuja dan bergantung. hanya Allah tempat segalanya berawal dan kembali, hanya Allah… dan Rasulullah adalah utusanNya yang mulia, manusia sempurna di semesta jagat raya. semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan untuk Beliau, keluarga Beliau yang suci, dan para sahabat Beliau yang penuh cinta.

aaammmiiinnn…

.R.

***

Allah Ta’ala menggunakan istilah istaghaatsahu (meminta pertolongan padanya, yaitu pada Musa, red.) dan Sayyidina Musa ‘alayhissalam tidaklah mengatakan pada orang tersebut: “HENTIKAN, hal itu (yaitu istighaatsah, meminta tolong, red.) hanyalah kepada Allah semata”. Jika ada orang yang mengklaim “Oh, saat itu Musa belum memiliki nubuwwah (kenabian)”, maka jawaban kami (GFH) padanya adalah: “Anda pastilah dari golongan Khawaarij? Karena bagi kami, kami adalah Ahlus Sunnah tidaklah mempercayai bahwa para Nabi pernah melakukan syirik, sebelum atau pun setelah mereka menerima wahyu kenabian mereka (Nubuwwah)!”

dan

dalam hadits di Shahihayn (riwayat Bukhari dan Muslim, red.): “Sungguh matahari akan turun mendekat pada Hari Kiamat hingga keringat pun akan mencapai bagian tengah telinga, dan mereka akan meminta pertolongan (istaghâtsû) kepada Adam ‘alayhissalaam, kemudian kepada Musa ‘alayhissalam, dan kemudian kepada Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam yang akan memohonkan bagi mereka (fa yasyfa’u)… dan pada hari itu Allah akan meninggikannya ke suatu Kedudukan Mulia (Maqama l-Mahmud), sedemikian rupa sehingga semua yang hadir dan berdiri di situ [termasuk mereka yang tidak beriman] akan memujinya (yahmadu ahlu al-jam’i kulluhum).” Jadi, di hadits ini Nabi ‘alayhi as-Salat was-Salam menggunakan istilah yang sama untuk melukiskan tentang istighatsaah kepada seluruh para Nabi oleh keseluruhan makhluq pada Hari Kebangkitan. Jika kemudian mereka beragumen: “Ini ‘kan untuk hari akhir?” maka jawaban kita adalah: “Apakah dengan demikian Syirik pada Allah (mensekutukan Allah) menjadi halal di hari akhir?” Subhanallahi ‘ammaa yashifuun.

Dalil-dalil di atas membuktikan bahwa istighaatsah, seperti juga isti’aanah, istisyfa’, dan tawassul, semua bermaksud untuk meminta seorang penolong yang benar dan seseorang yang diizinkan Allah untuk memohonkan pada-Nya pertolongan (syafa’ah) untuk memenuhi kebutuhan seseorang. Telah pula dijelaskan dalam http://www.marifah. net/articles/ seekingaid- haytami.pdf bahwa hal ini tidaklah menghilangkan Tawhid kecuali bagi seorang ghabiyy yang begitu ingin untuk menemukan suatu cacat di antara dua punuk unta, hingga menghambat perjalanan seluruh karavan; pada akhirnya ia pun akan ditinggalkan di jalan karena bagaimana pun karavan tersebut mesti terus bergerak.

…tidaklah termasuk syirik untuk meminta kepada Nabi untuk BERDOA AKAN turunnya hujan atau untuk MEMOHONKAN PADA ALLAH agar mengirimkan hujan; dan inilah yang sebenarnya dilakukan ummat Islam sejak dari zaman para Sahabah hingga ke zaman kita sekarang, yang sama dengan tawassul. Dan sudah menjadi keyakinan kokoh kita semua bahwa tak seorang pun dari Ummat Nabi yang pada hakikatnya secara sadar meminta kepada selain Allah Ta’ala sekalipun mereka menggunakan ekspresi kalimat berupa permintaan secara langsung, yang sebenarnya merupakan suatu ekspresi lisan singkat atau ijaz lafzi bahkan saat kita mengatakan “Yaa Rasulallaah!”, maknanya SELALU DAN TAK BERUBAH berarti “Mohonkan pada Allah bagi kami, jadilah pemberi syafa’at bagi kami dan perantara kami memohon agar Allah memenuhi kebutuhan kami” sebagaimana Abu Hurairah, Jabir, Ibn ‘Abbas dan lainnya meriwayatkan dari Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tentang Kedudukan Terpuji beliau di Hadirat Ilahi dan suatu kenyataan bahwa hal itu merupakan suatu sarana perantara/wasilah bagi Ummat beliau. *Nabi Besar Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam diciptakan sebagai Syafa’at dan Perantara.*

Ini adalah Aqidah 101 (maksudnya keyakinan dasar) bagi setiap Muslim Sunni dan orang-orang yang keberatan dengan konsep ini masih terjebak pada level di mana mereka secara sengaja mencampuradukkan tawassul dan istighatsah dengan ‘ibadah (penghambaan) saat mereka menghakimi Muslim lainnya, menghujani mereka dengan ayat-ayat Tawhid seperti {Janganlah kalian menyeru kepada seorang pun selain Allah} seolah-olah ayat-ayat ini berlaku bagi Muslim (padahal ayat-ayat itu ditujukan untuk orang-orang tak beriman, Musyrikin dan Kafir, red.). Hal ini mirip dengan yang dilakukan kaum Khawarij yang mengutip Quran secara sembarangan untuk menghakimi dan menyalahkan para Sahabat Nabi!; sedangkan mereka sendiri malah melakukan istighaatsah dengan dokter-dokter mereka, pengacara mereka, banker-bankir mereka, para agen rumah dan asuransi mereka, dengan USA, dengan EU (European Union), dengan raja-raja dan penguasa mereka, untuk urusan-urusan yang remeh-temeh sekalipun. Dengan menggunakan kriteria yang mereka buat sendiri, sebenarnya mereka sendirilah yang melakukan kesyirikan, bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ini bukan karena para pemrotes tersebut tidak paham Bahasa Arab atau prinsip-prinsip syari’ah atau Fiqh, sebagaimana Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam telah memperingatkan kita akan para penyeru ke api neraka di akhir zaman ini: “Mereka akan berbicara dalam bahasa kita” (yaitu bahasa Arab, red.) dan “Kalian akan terkagum-kagum dengan betapa indahnya mereka membaca Quran”. Mereka melakukan kritik dan protes atas praktik istighaatsah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini karena Syetan telah menanamkan di hati mereka su-‘uz zhann fil Muslimiin (buruk sangka terhadap kaum Muslimin) karena Syetan adalah musuh dari Ummat ini dan ia (syetan) memiliki pembantu-pembantuny a di kalangan Muslim sendiri untuk memerangi kaum Muslim secara umum dan menghambat manusia dari menemukan kebenaran, dan para pembantu Syetan ini dikenal secara umum dengan nama Wahhabi. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Islam, dan waktu mereka telah habis!

(seperti dijelaskan oleh Syaikh Gibreel Fouad Hadad dalam suatu milis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s