catatan di Magrib 10 Ramadhan 1431 H

Bismillaahirrahmaanirrahiim, dengan asmaMu duhai Pengasih dan Penyayang…

Surat ini kukirimkan teruntukMu yang begitu memahamiku. Engkau mengetahui bahwa aku mengirimkannya untukMu, melalui cara seperti ini. Aku sadar, sinyal kepadaMu melebihi satelit mana pun yang ada di jagat raya ini dan Engkau tahu apa pun yang akan kutulis selanjutnya. Engkau mengetahui dan membuatku melakukannya karena Engkau tahu aku butuh untuk melampiaskan perasaan ini dengan cara seperti ini. Allah, sungguh tidak ada keraguan sedikit pun dalam hatiku bahwa Engkau Maha Mengetahui dan menjadi saksi atas sekecil atom pergerakan pikiran dan perasaan setiap makhlukMu, tidak terkecuali aku yang bukan siapa-siapa ini.

Allah, kegundahan hatiku kian meraja. Dalam kurun waktu sepersekian bulan, yang menurut hitunganMu adalah lebih singkat dari itu, aku mengalami banyak sekali guncangan pasang-surut perasaan yang terjadi bercepatan bergantian. Engkau mengizinkanku untuk berkenalan dengan beberapa golongan hambaMu. Engkau menginginkanKu menggunakan dengan penuh amanah akal yang Engkau berikan, dengan menarik pelajaran darinya.

Pernah suatu ketika Engkau mengondisikanku bertemu dengan hambaMu yang begitu memujaMu. Pijar cinta mereka kepadaMu begitu membara. Sungguh, Engkau tampakkan bahwa mereka adalah manusia baik yang cintanya kepadaMu begitu sulit untuk terbendung. Aku menghormati mereka, Engkau tahu itu. Lantas Engkau mengujiku dengan berbagai aib yang harus melintas di telingaku tentang diri mereka. Adakah aku gagal ujian, Ya Tuhanku? Mohon ampunanMu duhai Yang Maha Pengampun lagi Perkasa, Engkau mengetahui bahwa aku berupaya semaksimal mungkin untuk tidak terjebak dalam lingkaran fitnah itu dengan tidak mau menggubrisnya. Kondisi itu makin menyerangku bertubi-tubi. Ketika logika dan hati ini makin tergoyahkan, aku yang hanya manusia bodoh ini mengejarMu Ya Tuhanku. Engkau membuatku yakin bahwa aku hanya butuh klarifikasi dan konfirmasi, lantas case closed, jangan ada turut campur penilaian di dalamnya. Hanya Engkau yang berhak menilai dan yang menjadi urusan orang lain biarlah orang yang bersangkutan yang menyelesaikannya, tentu dengan bantuanMu wahai Yang Maha Penolong. Adakah aku menyimpang, Ya Tuhanku?

Tanpa kuduga, Engkau membuat skenario yang mengondisikanku harus menjadi manusia yang lebih sabar dari sebelumnya. Terima kasih Allah karena mereka jadi menyerangku. Mereka menuduh sesuatu yang membuatku merasa bergidik karenanya, karena mengatasnamakan kedekatan mereka denganMu, “karomah”. Aku terjatuh pada titik terendah perasaanku, terlalu takut bahwa Engkau membenciku. Oh Allah, sungguh, Engkau Maha Mengetahui tentang makhlukMu. Aku tidak tahu harus mengupayakan apalagi ketika niat baik yang tersampaikan tidak digubris dengan baik, hanya pasrah, lillaah. Sesungguhnya Engkau bersemayam di setiap makhluk yang beriman kepadaMu dan aku harus belajar memperbaiki kendali diri: hati dan pikiran, melalui mereka. Aku berhadapan denganMu yang ada di dalam diri mereka, dan setiap ciptaanMu. Pun, tidak menutup kemungkinan Engkau berupaya menegurku melalui mereka.

Berselang beberapa waktu, aku makin merasa menjadi manusia yang tidak berarti apa-apa di hadapanMu. Oh Allah, begitu mudahnya manusia lain untuk bisa merasakan kedekatan dengan para kekasihMu. Mereka dapat bermimpi, berkomunikasi, bahkan bertemu langsung dengan kekasih-kekasih pujaan hatiMu. Engkau mengizinkan mereka mendapatkan kesempatan mulia itu, seperti halnya orang-orang lain yang Engkau izinkan untuk menginjakkan kaki di rumah agungMu. Oh Allah, sungguh kerinduan ini menjadi kecemburuan yang menjadi-jadi, semoga Engkau mengampuni hamba yang telah menodai kesucian RasulMu ini.

Allah, dalam keterpurukan perasaanku, kebaikanMu yang tiada tara menghentakkan kesadaranku. Sungguh, Engkau tidak pernah sedetik pun pilih kasih kepada setiap makhlukMu. Engkau Maha Mengetahui Ya Allah, apa pun yang ada di diri kami. Engkau lebih mengetahui segala yang terbaik bagi kami. Begitu pun dengan kesempatan yang Engkau berikan kepada setiap dari kami. Segalanya Engkau buat sebagai cobaan bagi kami dan untuk sesama kami. Menyenangkan atau tidak. Terima kasih Allah, atas setiap kesempatan ini, rencanaMu memang tidak pernah buruk untuk kami.

Campur aduk perasaan itu berbaur dengan perasaan saat ini yang menghantui diriku. Ampuni aku yang tidak pandai bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan Ya Allah. Bukanlah kemalasan yang timbul tenggelam dan emosi yang remuk redam dalam beberapa waktu ini membludak dikarenakan orang-orang di sekitarku. Sungguh, mereka tidak melakukan kesalahan terhadapku. Akulah yang tidak bisa memaknai kesempatan yang Engkau berikan dengan sangat baik. Sejak awal dan sudah selama ini aku bekerja mengais rizki karena niat meluapkan cintaku kepada orang tua yang begitu mencintaiku. Mereka selalu mengupayakan yang terbaik demi anak-anak mereka, bahkan sedari kami belum membuka mata di mayapadaMu ini. Mereka menghabiskan waktu hidup mereka hanya untuk membahagiakan anak-anak mereka, tidak luput dari membiayai pendidikan layak yang begitu mahal untuk kami. Oh Allah, sungguh Engkau Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di kedalaman lubuk hati ini. Adakah niat itu pada akhirnya bergeser karena tercemar noda-noda kepentingan dunia? Adakah niat itu pada akhirnya tertutup kabut yang menghalangi jalan ibadahku kepadaMu? Ya Allah, semoga Engkau tidak membutakan hati nurani dan akalku sehingga terus-menerus hanya mengejar dunia dan mendzalimi tubuh yang menjadi amanahmu ini.

Oh Allah, entah apalagi perasaan-perasaan yang masih tertinggal di hati ini. Engkau lebih mengetahui. Semoga Engkau senantiasa mengampuni hamba yang tidak hanya senang mendzalimi orang lain tetapi diri sendiri ini, Ya Tuhanku. Semoga Engkau berkenan untuk mengampuni dosa dan kesalahan yang hamba lakukan terhadap setiap makhlukMu. Semoga Engkau merahmatiku dengan petunjuk dan bimbinganMu sehingga aku bisa menjadi manusia yang lebih baik. Semoga Engkau berkenan untuk memberkahiku dengan keikhlasan sehingga aku bisa menjadi manusia yang mudah memaafkan setiap kesalahan sesamaku, disengaja ataupun tidak, telihat maupun tersembunyi, di masa lalu, saat ini, maupun masa mendatang. Oh Allah, semoga Engkau berkenan untuk menganugerahi kecintaan sehingga kami, makhlukMu yang penuh dengan kekurangan ini, bisa saling mencintai karenaMu dan semoga Engkau senantiasa mempertautkan hati kami dengan hati para kekasihMu, NabiMu, MalaikatMu, serta RasulMu yang mulia, keluarganya yang suci, dan para sahabatnya yang penuh cinta. Oh Allah, sungguh tiada Tuhan selainMu. Engkaulah segala kemuliaan, kasih sayang, cinta, dan kesempurnaan. Engkaulah tempat seluruh makhluk bergantung, memuja, serta memohon pertolongan dan perlindungan. Engkaulah tempat segalanya berasal dan akan kembali. Sungguh, hanya Engkau satu Tuhan di semesta jagat raya. Dan sungguh, RasulMu adalah manusia terindah, suci, dan mulia yang pernah Engkau ciptakan.

*Ampuni aku jika tanpa sepengetahuan kesadaranku ego telah mengambil alih kendali dan merebak ke sepenjuru diri ketika menulis surat ini. Sungguh, aku hanyalah manusia yang lemah, dan Engkau adalah sebaik-baik pelindung.

.R.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s