catatan di malam 5 Rabiul Awal 1433 H

Bismillah.
dulu sekali saya bingung mencari tempat untuk mengaji. selain pengetahuan agama yang cetek, juga kekhawatiran akan berada dalam suatu komunitas atau berada di bawah bimbingan guru yang “kurang mumpuni” membuat saya menunda untuk mencari, membuat saya makin linglung menghadapi diri saya sendiri dengan segudang masalah yang ada.

Alhamdulillah wasyukrulillah Allah memberikan saya jalan, jalan yang tidak saya cari tetapi dibentangkan di hadapan saya, untuk berada bersama dengannya. ia yang berada nun jauh di sana secara fisik dan belum pernah sekalipun saya berjumpa, tapi hati ini begitu ingin dekat dengannya. ia yang membuat tidak sedikit orang begitu mengagumi dan merasakan jatuh cinta kepadanya. bukanlah suatu keanehan bila kita merasakan cinta dan kerinduan yang mendalam kepada sosok yang belum pernah kita jumpai, karena itulah selayaknya cinta yang sejati (aaamiiin). dan bukankah kita pun belum pernah berjumpa secara lahir dengan Rasulullah SAW dan Allah SWT?

begitu banyak pertentangan di muka bumi ini, tidak terkecuali bagaimana beberapa orang (golongan) bisa begitunya tidak menaruh hormat dan cenderung “menyerang” sang guru dengan berbagai cara. saya tidak tau dan tidak ingin tau alasan mereka. jikapun tau, belum tentu saya bisa memahami alasan mereka karena saya tidak memiliki ilmu yang cukup untuk membela sang guru. pun, saya yakin ia tidak membutuhkan pembelaan saya, apalagi hingga saya menyerang balik mereka.

kebanyakan dari kita memang hanya senang melihat apa yang tampak oleh mata dan mendengar apa yang terdengar oleh telinga tanpa memberikan kesempatan bagi hati untuk mengeluarkan suaranya. terserah bagaimanapun mereka yang tidak menerima sang guru membuat penilaian atas beliau, saya memiliki penilaian sendiri dari sudut pandang pengalaman saya. penilaian yang tentunya didasarkan atas pengalaman selama berada dalam “jalan ini”. penilaian yang tidak hanya dirasakan oleh hati, tapi juga diolah oleh akal. penilaian yang bisa jadi tidak hanya dirasakan oleh saya, tetapi oleh segelintir orang lainnya di “jalan ini”.
1. sang guru tidak pernah mengajarkan murid-muridnya untuk melepaskan diri dari Syari’ah karena Syari’ah merupakan landasan sekaligus tonggak Islam. tanpa menerapkan Syari’ah, seseorang tidak dapat dikatakan muslim. (>> Syari’ah = ilmu yang mempelajari tentang Rukun Islam)

2. sang guru, tanpa disadari oleh para muridnya, mengarahkan mereka untuk bisa naik ke tingkatan berikutnya, yaitu menjadi seorang mukmin. setiap orang tentunya mendapatkan ujian berdasarkan porsi masing-masing. lantas, apakah inti dari ujian tersebut? “keyakinan”. keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dan tidak dapat terjadi atas izin Allah SWT. bahwa Ia adalah Sang Maha Penggerak. bahwa Ia adalah Sang Maha Berdaya dan Berkuasa. dan bahwa kita semua adalah bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. dan dengan merasakan menjadi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, sang guru membukakan kesadaran bahwa Allah senantiasa ada bersama setiap hambaNya.

3. sang guru mengajarkan murid-muridnya untuk kembali ke ajaran tradisional Islam, ajaran sesungguhnya yang diberikan oleh Rasulullah SAW. ajaran yang tidak terkontaminasi oleh politik dunia. ajaran yang mengintikan keTuhanan. ajaran yang selalu mengingatkan bahwa tujuan dari kehidupan manusia adalah akhirat.

dari ketiga hal utama yang diberikan oleh sang guru, kiranya saya deskripsikan secara ringkas suri tauladan yang diajarkan oleh sang guru dari Rasulullah SAW:
1. beliau tidak mengajarkan muridnya untuk bersikap anarkis, kasar, ataupun menyerang orang-orang yang oleh Allah belum atau tidak diberikan kesempatan untuk sepaham dalam hal prinsip agama. dan apakah ajaran tersebut bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah?

2. beliau mengajarkan muridnya untuk mengamalkan Sunah Rasulullah SAW. bukanlah untuk Rasulullah SAW kebaikan itu akan terimbas, tapi untuk mereka yang menjalan Sunah-nya: keselamatan. bila konsepsi akan keselamatan di akhirat kelak terlalu mengawang untuk bisa ditangkap oleh logika, mari kita coba telaah dengan akal. bukankah penelitian dari ilmu pengetahuan modern mampu membuktikan manfaat yang terkandung dengan tidur menghadap kanan, makan menggunakan tangan kanan secara langsung (tanpa sendok) dan dengan posisi badan duduk (bukan sambil berdiri, apalagi jalan), atau segudang manfaat dari Sunah lainnya?

3. beliau membuat murid-muridnya lebih mengenal sosok Rasulullah. dengan mengenal, cinta yang ada makin bertambah. banyak orang khawatir bahwa besarnya kecintaan kepada Rasulullah mampu mengalahkan cinta kepada Allah. bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? Rasulullah merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari keMahaBesaran Allah. Rasulullah adalah manusia yang dibuat oleh Allah untuk berada paling dekat denganNya. dan apakah ketika melihat Rasulullah kita menjadi tidak dapat melihat Allah, begitupun sebaliknya? pengkhultusan adalah istilah lainnya yang dibuat orang untuk menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar akan besarnya cinta kepada Rasulullah, walaupun mungkin orang yang membuat dan menyebarkan istilah tersebut begitu mencintai sosok seorang Michael Jackson dan rela menggunakan dan bergaya ala artis idolanya itu. bukankah ia berarti telah mengkhultuskan sang idola tercintanya?

4. beliau memberikan amalan-amalan bagi kami untuk dilaksanakan, tapi tidak sedikitpun beliau memberikan amalan yang membuat kami bisa “melihat” hal-hal gaib, berbicara dengan jin, terbang, menghilang, memprediksi masa depan, atau segudang hal lainnya yang orang bilang sebagai karamah. kami diajarkan bahwa karamah (bahkan terhebat) yang dimiliki manusia adalah mampu berjalan di atas bumi dengan tubuh tegak sambil memikul berton-ton dosa di punggung mereka. amalan-amalan yang diberikan oleh beliau adalah untuk membuat kami menyadari dosa-dosa kami dan membuat Allah ridha dan memberikan ampunanNya kepada kami.

setiap orang memiliki pengalaman ruhani, tapi bukanlah di sini dan dengan Anda saya membicarakannya. saya hanya sedikit bercerita mengenai apa yang saya rasakan dan semoga mampu menjadi gambaran bagi Anda yang menganggap kami tidak berada di jalan yang benar dan menyimpang dari kaidah Islam: saya merasakan kedamaian di hati saya yang dulu mudah sekali bergejolak. saya merasakan keindahan dalam mengenal arti cinta yang sesungguhnya. saya merasakan perbaikan diri, dari tidak tau menjadi tau. saya merasa lebih mengenal diri saya. saya ingin berada lebih dekat dengan sang guru, agar saya bisa berada lebih dekat dengan Rasulullah SAW, dan agar saya bisa berada lebih dekat dengan Allah, dunia-akhirat.

bila Anda melihat ada sesuatu yang menyimpang dari apa yang kami lakukan, mohon jangan melihat dan menuding sang guru sebagai “dalang” di balik penyimpangan tersebut. percayalah, beliau mengajarkan kebaikan dan hal-hal yang Haqq. penyimpangan tersebut cenderung dilakukan oleh kami yang tidak atau hanya memiliki sedikit ilmu tetapi merasa mengetahui banyak hal dan menyebarkannya ke orang lain. namun, bila Anda melihat kebaikan dari apa yang kami lakukan, maka lihatlah dengan saksama bahwa kebaikan tersebut diajarkan oleh sang guru dari Rasulullah kepada kami.

jalan kami adalah Naqshbandi Haqqani, sang guru mengatakan kami harus bergerak menjadi Rabbani di era ini. dan sang guru adalah Sultanul Awliya Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil Al Qubrusi Al Haqqani.

Masya Allah La Hawla Wala Quwwata Illabillah.

.R.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s