catatan tentang Rumi: sekilas kisah tentang Beliau

tulisan berikut bukanlah buah pemikiran atau kerja keras saya mengumpulkan berbagai artikel terkait Rumi. entah hasil transalasi, entah merupakan artikel di suatu media massa terkenal di Indonesia, tulisan yang saya sadur dari berbagai sumber di Internet yang sebagian besar memiliki isi, karakter, dan pola yang sama ini telah saya sunting di beberapa bagiannya. semoga tidak mengurangi esensi dari isi yang hendak disampaikan dan semoga Allah mengampuni saya apabila ada kesalahan yang telah saya lakukan yang karenanya dapat menimbulkan kesalahpahaman. mohon maaf tidak menyebutkan sumber asli karena sejujurnya saya tidak mengetahui sumber asli tulisan ini walaupun telah berupaya mencarinya.

Bismillah

***

“Ia adalah orang yang tidak mempunyai ketiadaan. Saya mencintainya dan mengaguminya. Saya memilih jalannya dan memalingkan wajah saya ke jalannya. Setiap orang mempunyai kekasih, ia adalah kekasih saya, kekasih yang abadi. Ia adalah orang yang saya cintai. Ia begitu indah. Ia adalah yang paling sempurna. Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Ia adalah ia dan ia dan mereka adalah ia. Ini adalah sebuah rahasia. Jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.” (Sultanul Awliya Maulana Syekh Nazim Adil al-Haqqani, cucu dari Maulana Rumi. Lefke, Cyprus, Turki, September 1998)

Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorang tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah guru nomor satu Tarekat Maulawiah, sebuah Tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman sekitar tahun l648.

Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indra dalam menentukan kebenaran. Di zamannya, umat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi mereka, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indra dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indra dan akal dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui.

Menurut Rumi, pemikiran semacam itu justru dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang gaib. Karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakikat yang tidak kasat mata yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi bisa menjadi goyah. “Orientasi kepada indra dalam menetapkan segala hakikat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan budak yang tunduk patuh pada panca indra. Mereka menyangka diri mereka adalah Ahlusunah. Sesungguhnya, Ahlusunah sama sekali tidak terikat pada indra-indra dan tidak pula mau memanjakannya.”

Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah merabanya dengan indra. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Yang lahir senantiasa menunjukkan sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?”

Pengaruh Tabriz
Farid ud-Din Attar, salah seorang ulama dan tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa ia kelak akan menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat bahwa ramalan Farid ud-Din Attar tidak meleset.

Rumi lahir di Balkh, Afganistan, pada 604 H atau 30 September 1207. Ia menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermazhab Hanafi. Karena karisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sultanul Ulama. Rupanya, gelar itu menimbulkan rasa iri sebagian ulama lain. Mereka pun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya, sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru berusia lima tahun. Sejak itu, Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah-pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut), kemudian Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara), dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad mengangkat ayah Rumi sebagai penasihat dan pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibu kota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.

Selain kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya dalam memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya tersebut. Beliau baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar di perguruan tersebut. Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, beliau juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang memiliki murid hingga mencapai 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, beliau juga memberi fatwa dan tumpuan umat untuk bertanya dan mengadu. Ketika itu banyak tokoh ulama yang berkumpul di Konya, tak heran jika kota ini kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.

Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliau berusia 48 tahun. Sementara itu, kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat ketika berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi dari kota Tabriz. Seperti biasanya, Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Suatu saat, seorang lelaki asing—yakni Syamsi Tabriz—ikut bertanya mengenai yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu. Rumi terkesima dengan pertanyaannya yang jitu dan tepat sasaran. Beliau tidak mampu menjawab dan akhirnya berkenalan dengan Tabriz. Kemudian, makin mengenal sosok Tabriz, Rumi makin kagum kepadanya. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Sultan Salad, putra Rumi, “Seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada tara.”

Berkat pergaulannya dengan Tabriz, Rumi menjadi sufi. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya ikut berperan mengembangkan emosinya sehingga beliau menjadi penyair yang sulit ditandingi. Karya-karyanya ditujukan untuk mengenang dan menyanjung gurunya, yang antologinya kemudian dikenal sebagai Divan Syams Tabriz. Wejangan-wejangan gurunya pun kemudian dibukukan dalam Maqalat Syams Tabriz.

Rumi mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya, selama 15 tahun terakhir masa hidupnya beliau menghasilkan himpunan syair yang mengagumkan, Matsnawi, yang terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Bahkan, Matsnawi sering disebut “Qur’an Persia”. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dengan jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (himpunan ceramah tentang metafisika dalam bentuk prosa), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya). Bersama Syekh Hisamuddin, Rumi mengembangkan Tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama “The Whirling Dervishes” (para Darwis yang berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut Tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

Wafatnya Maulana Rumi
Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya dilanda kecemasan karena mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, menderita sakit keras. Meskipun demikian, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya. Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendoakan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian akan bermakna baik. Namun, kematian juga ada yang kafir dan pahit.”

Pada 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke Rahmatullah. Penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan jenazahnya tatkala hendak diberangkatkan. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai Sebul Arus (Malam Penyatuan). Hingga saat ini, para pengikut Tarekat Maulawiyah masih memperingati hari wafatnya beliau pada tanggal tersebut.

Sama’, Tarian Darwis yang Berputar
Diiringi permainan biola dan ney (seruling kayu) sahabatnya, suatu saat Rumi yang tengah tenggelam dalam kemabukannya dalam tarian Sama’ mengatakan, “Seperti juga ketika salat kita berbicara dengan Tuhan, maka dalam keadaan ekstase para darwis juga berdialog dengan Tuhannya melalui cinta. Musik Sama’ yang merupakan bagian salawat atas baginda Nabi Sallallahu alaihi wasalam adalah wujud musik cinta demi cinta Nabi saw dan pengetahuanNya.”

Rumi mengatakan bahwa ada sebuah rahasia tersembunyi dalam musik dan Sama’, di mana musik merupakan gerbang menuju keabadian dan Sama’ seperti elektron yang mengelilingi intinya, bertawaf menuju Sang Maha Pencipta. Semasa Rumi hidup, tarian Sama’ sering dilakukan secara spontan disertai jamuan makanan dan minuman. Juga, Rumi bersama teman darwisnya sering melakukan tarian Sama’ di jalan-jalan kota Konya selepas solat Isya. Terdapat beberapa puisi dalam Matsnawi yang memuji Sama’ dan perasaan harmonis alami yang muncul dari tarian suci ini. Dalam bab ketiga Matsnawi, Rumi menuliskan puisi tentang kefanaan dalam Sama’, “Ketika gendang ditabuh, seketika itu perasaan ekstase merasuk bagai buih-buih yang meleleh dari debur ombak laut.”

Tarian Sama’ dari tarekat Mevlevi Haqqani atau Tarekat Mawlawiyah saat ini masih dilakukan di Lefke, Cyprus, Turki di bawah bimbingan Maulana Syekh Nazim Adil al-Haqqani. Ajaran Sufi Maulana Syekh Nazim dan maulana Syekh Hisyam juga merambah ke berbagai kota di Amerika maupun Eropa, sehingga tarian Whirling Dervishes ini juga dilakukan di banyak kota di Amerika, Eropa, dan Asia, di bawah bimbingan Maulana Syekh Hisyam Kabbani ar-Rabbani. Tarian Sama’ merupakan tiruan dari keteraturan alam raya yang diungkap melalui perputaran planet-planet. Pada abad 17, perayaan Sama’ dari tarekat Mevlevi dilakukan dalam situasi yang sangat sakral dan ditata dalam penataan khusus. Perayaan ini untuk menghormati wafatnya Rumi, suatu peristiwa yang Rumi dambakan dan lukiskan dalam istilah-istilah yang menyenangkan.

Para anggota tarekat Mevlevi belajar menarikan Sama’ dengan bimbingan mursyid. Tarian ini dimulai dengan tiupan ney, kemudian berlanjut dengan masuknya para penari yang mengenakan pakaian putih sebagai simbol kain kafan, jubah hitam besar sebagai simbol alam kubur, dan topi panjang merah atau abu-abu sebagai simbol batu nisan. Terakhir, seorang syekh masuk untuk memberikan penghormatan (izin) kepada para darwis. Para darwis membalas hormat dan syekh duduk di alas karpet merah menyala yang menyimbolkan matahari senja merah tua, simbol keindahan langit senja saat Rumi wafat. Disertai iringan musik: gendang, marawis, dan ney, syekh mulai bersalawat untuk Rasulullah SAW melalui puisi-puisi Rumi.

Para darwis memulai tarian dengan tiga putaran secara perlahan yang merupakaan simbolisasi tiga tahapan yang membawa manusia menemui Tuhannya. Pada putaran ketiga, syekh kembali duduk dan para penari melepas jubah hitamnya dengan gerakan yang menyimbulkan kuburan untuk mengalami “mati sebelum mati”, kelahiran kedua. Ketika syekh mengizinkan para penari menari, mereka mulai dengan gerakan perlahan memutar seperti putaran tawaf dan putaran planet-planet mengelilingi matahari. Ketika tarian hampir usai, syekh berdiri dan alunan musik dipercepat. Proses ini diakhiri dengan musik penutup dan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Saat ini, rombongan penari darwis secara teratur menampilkan Sama’ di auditorium umum di Eropa dan Amerika Serikat. Sekalipun beberapa gerakan tarian ini pelan dan terasa lambat, banyak penikmat yang mengatakan bahwa penampilan tarian ini sangat magis dan menawan. Kedalaman konsentrasi, atau perasaan dzawq, dan ketulusan para darwis menjadikan gerakan mereka begitu menghipnotis. Pada akhir penampilan, para hadirin diminta untuk tidak bertepuk tangan karena Sama’ adalah sebuah ritual spiritual, bukan pertunjukan seni.

.R.

catatan:
Imej “Whirling Dervish Tulay” diunduh dari Internet dan mungkin memiliki Hak Cipta (The image of “Whirling Dervish Tulay” was downloaded from Internet and might have Copyright).

Imej “Whatever Will Be Will Be” merupakan hasil suntingan Resthi: imej asli yang diunduh dari Internet dan translasi puisi karya Rumi yang didapat dari Sunlight (The image of “Whatever Will Be Will Be” was edited by Resthi: original image was downloaded from Internet and might have Copyright, English translation of Rumi’s poem was taken from Sunlight).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s