100 hari

100 hari sudah, bukan tidak terasa. melepaskan ternyata tidak semudah terbayangkan, tidak seringan terucapkan, walaupun lepas bergerak secepat cahaya, taktampak bentuknya tapi ada. fragmenfragmen adegan itu pun masih nyata. seperti rangkaian klise yang terpampang jelas di hadapan: aroma kesedihan, uap air mata, dan udara yang penuh dengan sesak. saya merasakannya, masih.

kehilangan untuk kedua kalinya bukanlah sesuatu yang membuat kehilangan itu sendiri jadi lebih mudah. tidak, bukan kehilangan. saya tidak akan menyebutnya kehilangan. karena tidak ada sesuatu yang hilang di semesta ini. semuanya hanya berubah wujud atau berpindah tempat. bagaimana bila saya sebut sebagai “ditinggalkan”?

ok, ditinggalkan kedua kalinya oleh orang yang tidak sekadar dekat tetapi juga sudah kita bagi kehidupan ini dengannya, bukanlah hal yang mudah. bukan trauma, memang. seperti, apa ya? ada nuansa sendiri yang ditimbulkannya. ah, entah, sulit. mungkin akan lebih mudah merasakannya dibandingkan mendeskripsikannya. tapi percayalah, Anda tidak ingin merasakannya walaupun pasti akan.

mendapat sekisah cerita dari seseorang. (tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai dan belajar, bukan?) inti dari hal yang ia sampaikan, bagaimana kita bersikap kepada seseorang, terutama orang tersayang. pada fragmen kehidupan di depan, akan terasa lebih ringan bagi kita untuk melangkah bila kita bersikap maksimal. kita menganggap bahwa orang terdekat adalah orang yang paling kita sayang dan tidak luput perhatian ini darinya, tapi kita sering lupa bahwa mungkin orang terdekat kita adalah orang yang paling sering kita sakiti, kita ingkari, kita buat kecewa, kita buat sedih, kita anggap remeh, dan mereka tetap menerima tanpa pamrih!

apakah jadinya bila mereka “meninggal-kan” kita? pernahkah terpikir bagaimana kita tanpa mereka? betapa banyak janji yang belum dilunasi, betapa banyak cerita yang belum tersampaikan, betapa banyak cita-cita bersama yang belum tercapai, dan segudang betapa banyak lainnya yang biasa kita bagi dengan mereka. bagaimana “betapa banyak lainnya” ini tanpa kita dan mereka? percayalah, membayangkan lebih mudah dari merasakan.

100 hari sudah, dan itu adalah waktu di mana saya disadarkan bahwa bagaimana jadinya saya tanpa mereka? saya cinta mereka, sayang sepenuh jiwa-raga. dan membayangkan mereka “meninggal-kan” saya duluan membuat saya tidak ingin menyiakan lebih banyak kesempatan. “you never know what you’ve got ’till its gone.”

.R.

PS. terima kasih telah berbagi cerita itu dengan saya. semoga kita dapat saling bersikap lebih baik dengan setiap orang yang kita sayang. semoga Allah memberkahi kamu dan setiap orang tersayang dengan kemurahhatian dan kelembutanNya, aaamiiin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s