bukan curhat, cuma curhat

saya tidak tau bagaimana cara memulai untuk berdamai. ini di luar konteks “peace begins with a smile”. atau sebenarnya berkolerasi, tetapi damai yang saya maksud dalam hal ini lebih jauh ke dalam diri sendiri.

entah mana yang lebih baik dalam konteks suatu hubungan: berdamai dengan diri sendiri lantas berdamai dengan orang lain, atau berdamai dengan orang lain baru berdamai dengan diri sendiri.

takdir saya adalah sebagai seorang manusia, wanita, yang memiliki banyak kekurangan, bahkan terkadang saya merasa akan menjadi wanita terakhir yang dilihat oleh para pria karena banyaknya wanita sempurna di luar sana. saya melakukan banyak kesalahan, disengaja atau tidak, pun di saat berkalikali mengucap janji dalam diri untuk tidak mengulanginya. ada satu sisi di mana diri memberontak ketika merasa terluka sangat atau tidak dapat terusmenerus menerima perlakuan yang menyebabkan hati seperti sakit.

salah. sungguh salah. selemah apa pun, seharusnya saya bersabar. seharusnya tidak mengajak pasukan ego untuk membuat pertahanan diri sedemikian rupa melakukan perlawanan. salah, saya sungguh salah. seharusnya tidak berharap orang lain memaklumi kesalahan saya, tidak berharap orang lain memahami perasaan saya. ini bukan tentang perasaan saya karena perasaan saya, perasaan sakit saya, hanyalah milik saya. tidak untuk dibagikan.

mungkin, saya membutuhkan masa dalam sendiri. mungkin, saya perlu lebih banyak mengoreksi dan memperbaiki diri. mungkin, saya perlu mengalami suatu waktu untuk bisa merasakan di mana cinta adalah tentang hubungan saya dengan orang lain, cinta adalah tentang cinta saya dan cinta orang lain. dan karenanya dibutuhkan suatu kedamaian dan kedewasaan diri untuk bisa mempertahankannya, menjaganya tetap utuh. juga untuk memahami bahwa suatu sakit adalah sakit sehingga tidak membuat orang lain merasakan rasa sakit.

Allah Maha Mengetahui. setiap orang yang meyakininya, tidak akan memungkirinya, walaupun tidak setiap orang yang meyakininya, menyadarinya setiap saat. semoga Ia mengampuni segala kesalahan saya, menutup segala aib saya, dan memperbaiki segala kekurangan saya.

ini bukan curhat. ini cuma curhat.

.R.

siapa menanam cinta, akan memanen cinta . . .

apakah pernah terpikirkan oleh Anda bila pada waktunya nanti, adakah yang mengurus jenazah Anda hingga ke liang kubur?

***

beberapa waktu lalu seorang adik dari almarhumah mama tercinta menyampaikan suatu kalimat yang belum terpikirkan oleh saya hingga saat itu, “Mama meninggalnya enak, banyak yang urus. Saat sakit pun banyak yang memperhatikan. Saat telah meninggal pun banyak yang memedulikan dengan mengirimkan berbagai makanan untuk acara tahlilan, bahkan makanannya sampai dihadiahkan kembali karena begitu banyaknya. Mungkin karena semasa hidupnya mama sangat perhatian sama tetangga dan orang-orang di sekitarnya. Tante engga tau nanti saat meninggal seperti apa. Belum tentu ada yang urus.”

pernyataan yang benar-benar bikin saya tidak berhenti memikirkannya hingga saat ini. lantas saya merunut memori ke beberapa waktu lampau: sudahkah saya merawat orang tua saya dengan begitu baiknya selayak orang tua saya menunjukkan bahwa mereka merawat orang tua mereka dengan sangat baik? jika kesempatan bagi saya telah berlalu untuk merawat dengan sangat maksimal almarhumah mama semasa hidup beliau, maka saya tidak ingin menyianyiakan kesempatan untuk merawat beliau yang telah berada di alam barzah. sungguh, Ia adalah Sang Maha Pemurah dan Penuh Cinta.

***

baru saja membaca kisah mengenai seorang yang sangat rendah hati yang keseharian hidupnya dibusanai dengan kefakiran: Beliau, Sayyidina Uwais Al-Qarny. Beliau adalah seorang yang begitu patuh dan senantiasa merawat kedua orang tuanya. bahkan, dalam kondisi sang ibunda lumpuh, Beliau tidak pernah sungkan untuk menggendongnya ketika sholat. tidak pernah ada masa di mana Beliau meninggalkan sang ibunda tanpa izin darinya. Beliau adalah seorang yang tidak ingin dikenal oleh orang-orang, tetapi oleh Rasulullah SAW dikatakan bahwa Beliau sangat dikenal oleh penduduk langit. dan bukti cinta Allah kepada Beliau sebagai hadiah yang ditampakkan kepada penduduk bumi atas cinta Beliau kepada kedua orang tua, Rasulullah, dan Allah adalah saat wafatnya Beliau. diriwayatkan bahwa saat Beliau wafat, banyak orang tidak dikenal yang memandikan, mengafani, mengusung jenazah, menggali kubur, hingga menguburkan Beliau. padahal, dikatakan bahwa karena kefakirannya, Beliau diacuhkan oleh orang-orang di lingkungan sekitarnya. konon, dikatakan bahwa orang-orang tidak dikenal tersebut adalah para malaikat Allah. masya Allah, lahawla wala quwwata illabillah.

***

mungkin kita tidak menyadari bahwa selayak anak adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dengan sangat baik oleh orang tua, orang tua adalah ladang amal yang berjarak sangat dekat dari anak. bukan saya yang menjadi anugerah yang diberikan kepada orang tua saya, tetapi orang tua saya adalah anugerah terindah yang diberikan kepada saya. alhamdulillah wasyukrulillah.

apakah pada waktunya nanti, ada yang akan mengurus saya? semoga . . .

.R.

kisah lebih lanjut mengenai Sayyidina Uwais Al-Qarny bisa diperoleh melalui Uwais al-Qarny

peace begins with a smile

teringat sebuah tulisan “peace begins with a smile“. sebentar, kalau tidak salah itu adalah quote. ya, sebuah quote yang dinukil dari ucapan seorang bijak bestari.

mendapatkan senyuman dari beberapa orang yang seringnya bermuka masam (maaf) dan memalingkan wajah ketika saya tersenyum kepadanya ternyata memang mampu menyejukkan hati. segala pikiran yang berkumandang sebelumnya mengenai sikap yang membuat mereka senang atau tidak senang kepada saya terasa luruh seketika. seperti es yang mencair dan ada sejuk darinya.

mungkin, kemarin mereka sedang merasa tidak enak diri, entah berkelumit dengan masalahmasalah berat yang membuat mereka merasa tidak nyaman dengan diri sendiri dan orang lain dan pada akhirnya membuat “benteng diri”. entah.

pastinya, sejak pagi tadi saya benarbenar memahami: peace begins with a smile. damai. subhanallah walhamdulillah.

.R.

“politik”

istilah politik bukanlah sesuatu yang aneh terdengar dalam segala sisi kehidupan kita. “politik” pun memiliki makna berbeda sesuai dengan konteksnya. dalam konteks perilaku keseharian, politik berarti cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah) [KBBI]. artinya, setiap orang berpolitik!

politik seperti apakah yang kita lakukan? baikkah? well, sebenarnya, istilah “politik” itu sendiri bertendensi negatif. terkesan seperti membuat siasat atau taktik untuk menjatuhkan orang lain yang dianggap sebagai rival dan menggeser kedudukan mereka.

seringnya, “politik” dilakukan dengan caracara yang licik, curang, dan penuh intrik. terkadang seseorang harus bermuka dua, tiga, empat. terkadang seseorang harus “lihai” dan “lincah” dalam “menjilat” mangsa yang dianggap sebagai yang menjadi “kunci” tujuannya, siapa pun. bisa jadi atasan, bisa jadi pejabat, bisa jadi guru, bisa jadi . . . tergantung tujuan si empunya maksud.

untuk maksud bertendesi tersebut, terlihat “silly” memang. ok, bukan sekadar terlihat, tapi benarbenar “silly“. karena sibuk mencaricari strategi dan berfokus pada orang yang dijadikan sasaran “politik”, terlupakah bahwa ada sesuatu yang dengannya kita tidak mungkin melakukan manipulasi?

tidak peduli seberapa pun Anda berupaya dengan berbagai cara licik, mulai fitnah hingga pembunuhan karakter, untuk mendekati “dia” atau bahkan “mereka”, itu urusan Anda. karena saya yakin bahwa Allah Sang Maha Melihat tidak akan membiarkan seorang pun dari makhlukNya yang telah bersabar terus-menerus menjadi sasaran empuk tingginya ego dan kesombongan Anda. pada waktunya, segala upaya Anda akan membuahkan hasil. dan pada waktunya, segala kesabarannya akan membuahkan hasil. “everything has its own time.”

.R.